Tsunami Tanpa Makna Desember 24, 2008
Posted by IREMA SMA 6 Tasikmalaya in Kisah Hikmah.add a comment

Ini adalah satu kisah yang membuat saya menjadi perenung kelas berat, keajaiban seakan menjadi sebuah benda yang kami tetap nantikan. Tepatnya 26 Desember 2004 silam, kejadian ini meninpa salah satu keluarga kami di Aceh. Waktu itu saya baru satu tahun tinggal di Medan. Kejadiannya adalah Minggu pagi. Kebiasaan saya mencuci pakaian di pagi hari minggu itu, dihentakan dengan getaran bumi kira-kira 5,6 Skala Richter. Medan oleng banyak diantaranya yang menyadari kejadian gempa yang berpusat 30 Km lepas pantai Banda Aceh (Samudera Hindia), berhamburan ke luar rumah. Tiang listrik yang terbuat dari beton ibarat kayu bergoyang ke sana sini, sejumlah orang tak bisa berdiri tegak. Hari itu bencana terbesar negeri ini menimpa masyarakat Aceh, Sibolga dan Nias serta sebagian besar daerah pesisir barat pulau Sumatera.
Kejadian tragis itu juga menimpa keluarga kami di Banda Aceh, kakak tercita dan sekeluarga adalah salah satu keluarga yang ditakdirkan tuhan untuk merasakan kedahsyatan bencana ini.
Bencana itulah, tuhan menakdirkan salah seorang putra tercintanya (Aulia Algifari) hingga kini belum diketemukan. Bertahun-tahun lamanya akejadian Tsunami itu kini menjadi simbol penyemangat hidup. Keluarga kakak kami tercinta berangsur pulih dan alhamdulillah kini telah kembali menikmati kehidupannya di Tanah Rencong dengan penuh kebahagiaan.
Namun bagi bangsa ini, bertahun tahun Tsunami itu telah terjadi, makna akan hal ikhwal dari bencana itu diturunkan tuhan hingga kini tak pernah tertanam dalam jati diri bangsa ini.
Aku cuma berharap di tengah gelimangan dosa bangsa ini, semoga saja tuhan kemudian tidak murka dengan kepongahan bangsa ini. Tahukah bahwa Tsunami itu tanpa makna di negeri ini, bukan mustahil tuhan akan kembali menerjang nusantara dengan Tsunami-Tsunami yang lain.
Masih sahabat saksikan, hingga kini semburan lumpur di Sidoarjo yang belum juga berhenti. Ini menujukan jika tuhan masih melihat bangsa ini belum sadar dan kembali kefitrahnya.
Kembali ke Tsunami, bangsa ini kini telah dibutakan dengan teknologi, bahwa bangsa ini seakan bakal terselamatkan dari bencana serupa, dengan teknologi mutakhir. Boleh saya kasih tahu, jika kehebatan teknologi juga adalah bahasa tuhan bukan ?. Bahasa itu tuhan telah pegang, dan bahkan mungkin juga tak bisa mendeteksi Tsunami selanjutnya yang akan diturunkan. Lalu siapa yang sebenarnya bisa mendeteksi, mengetahui dan menghindar dari tsunami-tsunami (bencana-bencana) yang akan datang.
Hanya satu, adalah orang yang menyelenggarakan kehidupannya dengan manusia tanpa mengenal ras agama dan kepercayaannya serta sukunya, dan orang yang menyelenggarakan kehidupan dengan tuhannya. Hanya itu orang yang mampu mendeteksi dan menghindar dari ancaman Tsunami yang akan datang.
Asal tahu saja, Tsunami-Tsunami baru akan datang dalam berbagai dimensi. Kesenjangan ekonomi, kemiskinan, kebiadaban penguasa, korupsi yang membahana dan sebagainya.
Dan ini semua kembali dan datang karena adanya Tsunami tanpa makna, Tsunami tak bermakna dan Tsunami yang tak pernah melahirkan makna. Ingat !, Tuhan akan selalu berbica dengan kesungguhan dan hanya manusia yang punya hati nuraninya yang akan mampu berbicara baik dengan tuhannya. Tahukah bahwa Islam didirikan dengan tangan si miskin dan si anak yatim piatu, tahukan bahwa Islam didirikan oleh seorang penggembala kambing.Namun kenapa Islam bisa kokoh hingga sekarang meski dihujat dan disudutkan diberbagai penjuru.
Dari situlah kita bisa lihat, bahwa kemuliaan yang diberikan tuhan kepada manusia tidak dilihat dari berapa banyak hartanya, keelolan rupanya dan dari mana ia berasal. Ingat tuhan tidak pernah membedakan umatnya, dialah Muhammad yang diberikan keteladanan dan keutamaan yang mempunyai hati nurai untuk selalu menyelenggarakan kehidupan terbaiknya dengan manusia dan tuhannya. Maka jangan heran jika Islam akan tetap berdiri kokoh di muka bumi ini.
Nah, inilah yang harus kita ingat. jadikanlah Tsunami-Tsunami tanpa makna itu tak menjelma lagi di kehidupan kita. Menyelenggarakan kehidupan terbaik dengan manusia dan tuhan adalah jawabannya. Ingat, bahwa tuhan bisa berbicara banyak dengan manusia di Dunia ini. Jadi tetaplah berdiri dengan kalimat tauhidnya, hingga tsunami tanpa makna ini bisa kita lenyapkan.by@mujahid abdurrahim Alumni SMA 6 Tasikmalaya Angkatan 2003
Belajar Mendengarkan November 7, 2008
Posted by IREMA SMA 6 Tasikmalaya in Motivasi.add a comment
Komunikasi, sesungguhnya tidak hanya terbatas dalam bentuk kata-kata.
Komunikasi, adalah ekspresi dari sebuah kesatuan yang sangat kompleks :
bahasa tubuh, senyuman, peluk kasih, ciuman sayang, dan kata-kata. Seni
mendengarkan, membutuhkan totalitas perhatian dan keinginan mendengarkan,
hingga sang pendengar dapat memahami sepenuhnya kompleksitas emosi dan
pikiran orang yang sedang berbicara. Bahkan, komunikasi yang sejati, sang
pendengar mampu memahami apa yang terjadi / yang dirasakan oleh lawan bicara
meski dengan kata-kata yang sangat minimal.
Bagaimana Cara Mendengarkan Yang Baik ?
Di awal artikel ini pembaca dapat menarik gambaran bagaimana suasana hati
Rekan kita dan apa yang diharapkannya ketika ia mencoba “berkomunikasi”
dengan kita; dan bagaimana keadaan “hati” Rekan kita setelah itu? Kejadian
tersebut tampaknya sangat umum terjadi di mana-mana, di hampir setiap
hubungan. karena setiap orang memiliki masalahnya masing-masing hingga
seringkali memblokir hubungan positif yang seharusnya terjalin antara mereka
dengan Rekan kita-Rekan kita. Tapi, bukan berarti hal itu dapat selalu
dimaklumi, bukan? Bagaimana pun, setiap kita , perlu diingatkan kembali,
bagaimana cara “mendengarkan” Rekan kita.
1.Fokuskan perhatian Rekan kita
Pada saat Rekan kita mencoba mengatakan sesuatu, berilah perhatian
sepenuhnya pada ceritanya. Untuk itu, alangkah baiknya jika kita mengalihkan
perhatian sejenak dari film atau sinetron yang sedang ditonton, majalah,
koran, atau dari pekerjaan yang sedang dihadapi. Tataplah langsung di
matanya sambil memberi kesan bahwa kita benar-benar siap memperhatikan
ceritanya, dan mendorongnya untuk bercerita.
2. Re-statement, mengulangi cerita Rekan kita untuk menyamakan pengertian
Tahanlah diri untuk tidak menginterupsi ceritanya sampai Rekan kita selesai
bercerita. Ketika Rekan kita selesai bercerita, cobalah memberikan
kesimpulan berdasarkan hasil tangkapan kita terhadap ceritanya. Pola ini,
memberikan feedback bagi kita dan Rekan kita, apakah kita benar-benar telah
memahami apa yang diceritakan atau apa yang sebenarnya ingin diungkapkan
oleh Rekan kita.
3. Menggali perasaan dan pendapat Rekan kita akan masalah yang sedang
dihadapi
Kita boleh bertanya pada mereka : “bagaimana perasaan anda, waktu
itu….”; cara ini jauh lebih baik ketimbang menjatuhkan penilaian subyektif
atas diri mereka : “ah, kamu pasti salah! Kamu kan penakut….” atau “ah,
paling kamu menangis…kan kamu cengeng…” atau “kamu nggak menangis, kan?
Penilaian tersebut malah membuat Rekan kita frustrasi karena mereka
mengharap kita bisa mengerti perasaan mereka, bukan menilai sikap dan
perasaan mereka. Selain itu, penilaian subyektif yang datang terlalu cepat,
bisa membuat Rekan kita menarik diri untuk tidak lebih lanjut menceritakan
perasaan yang sebenarnya, karena kita sudah punya anggapan tertentu.
4. Bantu Rekan kita mendefinisikan perasaan
Mendengarkan sepenuhnya cerita pengalaman Rekan kita, baik itu
menyedihkan dan menyenangkan, membuat kita berdua (dengan Rekan kita) dapat
berbagi rasa dan Rekan kita pun akan merasa kita menghargainya. Rekan kita
akan biasa bersikap terbuka karena yakin kita pasti bersedia mendengarkan
mereka. Jika Rekan kita masih sulit mengidentifikasi perasaan mereka,
bantulah dengan mendengarkan cerita mereka sungguh-sungguh, dan melontarkan
kesan seperti “Wah..kamu sepertinya sedih sekali”..atau “Kamu kelihatan
sangat marah”…atau “kamu sepertinya sedang bosan?”. Rekan kita akan sangat
lega ketika kita bisa menangkap perasaan mereka. Interaksi demikian, melatih
Rekan kita mengidentifikasikan perasaan mereka secara tepat.
5. Bertanya
Hindari sikap memaksakan pendapat, cara, penilaian kita; alangkah
lebih baik jika kita membimbing mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang
membuat mereka semakin memahami kejadian yang dialami, teman yang dihadapi,
perasaan yang mereka rasakan serta sikap – tindakan yang harus mereka
lakukan sebagai pemecahannya.
6. Mendorong semangat Rekan kita untuk bercerita
Hanya dengan memberi respon “Ooo….O ya?…Wow!…” sudah menjadi
stimulasi bagi mereka untuk makin giat bercerita.Pola ini dapat membuat
Rekan kita tenang dan nyaman karena merasa kitamemahami apa yang mereka
ungkapkan.
7. Mendorong Rekan kita mengambil keputusan yang tepat
Jika kita ingin membantu Rekan kita menghadapi masalahnya, sebaiknya
kita tidak mengambil alih keputusan (“ya sudah, kamu harus seperti ini”)
atau tindakan Sebaliknya, hadirkan beberapa alternatif yang membuat mereka
berpikir dan memilih Rekan kitaah solusi terbaik sambil membicarakan
akibat-akibat yang bisa dirasakan baik oleh Rekan kita maupun oleh orang
lain.
8. Menunggu redanya emosi Rekan kita dan mengajak berpikir positif
Jika Rekan kita masih diliputi emosi yang memuncak hingga membuatnya
sulit berbicara, kita jangan memaksakan Rekan kita untuk segera bicara. Kita
tidak akan berhasil membuatnya bercerita dan kita pun makin tidak sabar
untuk tidak memberikan opini kita padanya. Konflik seringkali terjadi dan
ini menyebabkan memburuknya hubungan kita Rekan kita. Berikan waktu untuk
menyendiri sampai intensitas perasaannya mereda. Ketika emosinya mereda,
Rekan kita akan lebih siap untuk diajak bicara. Sekali lagi, berusahalah
untuk tidak memberikan opini kita pribadi, baik terhadap pilihan sikapnya,
emosinya, dan tindakannya.Tanyakan pemikiran mereka terhadap masalah ini dan
bagaimana kira-kira sikap yang sebaiknya mereka lakukan di kemudian hari.
Sikap ini tidak saja menghindarkan Rekan kita dari perasaan dihakimi, namun
juga membantu mereka lebih memahami kejadian / peristiwa itu secara obyektif
serta menemukan nilai atau pelajaran berharga yang dapat dipetik dari
kejadian itu.
Apa manfaat dari mendengarkan?
Bagi seorang Rekan kita, komunikasi bukan hanya bertujuan untuk membuat
orang dewasa atau orang lain mengetahui dan memenuhi kebutuhannya. Dari
komunikasi itu lah, Rekan kita dapat menarik kesimpulan, bagaimana orang
memandang dirinya; dan dari kesan ini lah seorang Rekan kita membangun rasa
percaya diri dan sense of self. Rekan kita akan merasa dihargai, merasa
percaya diri dan mengembangkan penilaian positif terhadap dirinya, ketika
kita menaruh perhatian tidak hanya pada ceritanya, tapi juga pada pendapat,
keyakinan, kesimpulan, ide-ide, perasaan, bahkan ketika pendapat tersebut
tidak sesuai dengan pendapat kita. Sikap kita yang “mendengarkan” Rekan
kita, membuat Rekan kita berani membuat perbedaan dan menjadi berbeda, tanpa
takut akan salah, dilecehkan atau ditertawakan. Hal itulah yang menjadi
salah satu landasan keberanian dan keinginan Rekan kita, untuk menjadi diri
sendiri apa adanya.
Dari tanggapan-tanggapan kita, Rekan kita akan belajar mengenal banyak
informasi dan pengetahuan, mendengar sesuatu yang berbeda dari yang
dipikirkannya selama ini, melihat alternatif yang lain, menilai pendapat dan
tindakannya sendiri, menilai posisi dirinya di mata orang lain, dan menarik
kesimpulan apa yang harus dilakukan olehnya. Proses saling mendengarkan dan
didengarkan, mengasah daya kritis dan kreativitas berpikir Rekan kita karena
ketika antara Rekan kita dengan kita terdapat jalur 2 arah yang terbuka,
maka terbuka pula akses informasi, pengetahuan, perasaan, pemikiran dan
pengalaman dari kedua belah pihak. Satu sama lain, saling belajar dan saling
memperkaya, saling mengenal dan semakin memahami.
Proses komunikasi antara kita dengan Rekan kita, sangat membantu Rekan kita
memahami dirinya sendiri, perasaannya, pikirannya, pendapatnya dan
keinginan-keinginannya. Rekan kita dapat mengidentifikasi perasaannya secara
tepat sehingga membantunya untuk mengenali perasaan yang sama pada orang
lain. Lama kelamaan, semakin Rekan kita terlatih dalam mengenali emosi,
tumbuh keyakinan dan sense of control terhadap perasaannya sendiri (lebih
mudah mengendalikan sesuatu yang telah diketahui). Misal, jika Rekan kita
sudah tahu bagaimana rasanya marah, sedih, kecewa, takut, kesepian, dsb,
maka akan lebih mudah bagi kita memberikan alternatif-alternatif cara
menghadapi dan menyelesaikannya.
Mendengarkan Rekan kita secara sungguh-sungguh, membuat Rekan kita percaya
pada sahabat, Lingkungan dia berada. Hubungan mutual trust, ini membuat
Rekan kita merasa lebih nyaman berada bersama kita, lebih memilih ‘curhat
dengan kita dan siap menjadi “partner” ketika kita yang giliran butuh
didengarkan.
Evaluasi Diri
Mendengarkan dan didengarkan, adalah kunci hubungan kita-Rekan kita yang
sangat bermanfaat, baik untuk pengembangkan kematangan emosional, kepandaian
intelektual, kemampuan membina kehidupan sosial yang baik serta penanaman
nilai prinsip moral yang baik pada Rekan kita. Dengan mendengar dan
didengar, jalur komunikasi 2 arah terbuka lebar antara kita �C Rekan kita,
memungkinkan keduanya saling mengerti dan membuat kita dapat memberikan
dukungan yang diperlukan oleh Rekan kita. Namun sebaliknya, jika kata-kata
yang diucapkan Rekan kita hanya sekedar “terdengar” di telinga kita, akan
hilang begitu saja terbawa angin dan tidak memberikan makna serta kontribusi
apapun dalam proses pertumbuhan Rekan kita. Nah, apakah kita sebagai kita,
tega mengorbankan kualitas perkembangan dan tingkat kematangan emosional,
intelektual, moral, dan kemampuan sosial Rekan kita demi kesenangan sesaat
(film yang menarik, obrolan gossip yang asik, berita yang sedang dibaca, dan
lain sebagainya)…..Inilah saatnya kita sebagai kita merefleksikan dalam
kehidupan sehari-hari, apakah kita sudah lebih sering mendengarkan Rekan
kita….ataukah, cerita mereka hanya terdengar sayup-sayup oleh kita?
Tulisan Di Atas Pasir Desember 7, 2007
Posted by IREMA SMA 6 Tasikmalaya in Motivasi.add a comment
Di pesisir sebuah pantai, tampak dua anak sedang berlari-larian, bercanda dan bermain dengan riang gembira. Tiba-tiba, terdengar pertengkaran sengit di antara mereka, salah seorang anak yang bertubuh lebih besar memukul temannya sehingga wajahnya menjadi biru lebam. Anak yang dipukul seketika diam terpaku. Lalu, dengan mata berkaca-kaca dan raut muka marah menahan sakit, tanpa berbicara sepatah katapun, dia menulis dengan sebatang tongkat di atas pasir: “Hari ini temanku telah memukul aku !!!”
Teman yang lebih besar merasa tidak enak, tersipu malu tetapi tidak pula berkata apa-apa. Setelah berdiam-diaman beberapa saat, ya ..dasar-anak-anak, mereka segera kembali bermain bersama. Saat lari berkejaran, karena tidak berhati-hati, Tiba-tiba, anak yang dipukul tadi terjerumus ke dalam lobang perangkap yang dipakai menangkap binatang “Aduh…. Tolong….Tolong!” ia berteriak kaget minta tolong. Temannya segera menengok ke dalam lobang dan berseru “Teman, apakah engkau terluka? Jangan takut, tunggu sebentar, aku akan segera mencari tali untuk menolongmu”. Bergegas anak itu berlari mencari tali. Saat dia kembali, dia berteriak lagi menenangkan sambil mengikatkan tali ke sebatang pohon “Teman, Aku sudah datang! Talinya akan kuikat ke pohon, sisanya akan ku lemparkan ke kamu, tangkap dan ikatkan dipinggangmu, pegang erat-erat, aku akan menarikmu keluar dari lubang”.
Dengan susah payah, akhirnya teman kecil itupun berhasil dikeluarkan dari lubang dengan selamat. Sekali lagi, dengan mata berkaca-kaca, dia berkata, “Terima kasih, sobat!”. Kemudian, dia bergegas berlari mencari sebuah batu karang dan berusaha menulis di atas batu itu “Hari ini, temanku telah menyelamatkan aku”.
Temannya yang diam-diam mengikuti dari belakang bertanya keheranan, “Mengapa setelah aku memukulmu, kamu menulis di atas pasir dan setelah aku menyelamatkanmu, kamu menulis di atas batu?” Anak yang di pukul itu menjawab sabar, “Setelah kamu memukul, aku menulis di atas pasir karena kemarahan dan kebencianku terhadap perbuatan buruk yang kamu perbuat, ingin segera aku hapus, seperti tulisan di atas pasir yang akan segera terhapus bersama tiupan angin dan sapuan ombak.
Tapi ketika kamu menyelamatkan aku, aku menulis di atas batu, karena perbuatan baikmu itu pantas dikenang dan akan terpatri selamanya di dalam hatiku, sekali lagi, terima kasih sobat”.
Pembaca yang budiman,
Hidup dengan memikul beban kebencian, kemarahan dan dendam, sungguh melelahkan. Apalagi bila orang yang kita benci itu tidak sengaja melakukan bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa dia telah menyakiti hati kita, sungguh ketidakbahagiaan yang sia-sia.
Memang benar…. bila setiap kesalahan orang kepada kita, kita tuliskan di atas pasir, bahkan di udara, segera berlalu bersama tiupan angin, sehingga kita tidak perlu kehilangan setiap kesempatan untuk berbahagia.
Sebaliknya.. tidak melupakan orang yang pernah menolong kita, seperti tulisan yang terukir di batu karang. Yang tidak akan pernah hilang untuk kita kenang selamanya.
Salam sukses luar biasa!!
Andrie Wongso
Mencari Hikmah di Antara Para Mapala November 28, 2007
Posted by IREMA SMA 6 Tasikmalaya in Kisah Hikmah.add a comment
Oleh Mariani Tri Agustina
Mapala. Mahasiswa pecinta alam. Apa yang terlintas di benak Anda saat membacanya?
Mungkin sebagian orang berpikir bahwa hal-hal yang dilakukan para pecinta alam itu seperti kurang kerjaan. Naik gunung, memanjat tebing, rafting, dan lain sebagainya. Apa sih yang bisa didapat dari situ? Paling -paling hanya refreshing, bersenang-senang, menenangkan pikiran, melhiat pemandangan-pemandangan indah ciptaan-Nya.
Tetapi…
Di sini kami smua belajar banyak
Di sini kami merasakan kebersamaan yang sesungguhnya
Di sini kami mendapat keluarga yang baru
Di sini kami mengenal arti persahabatan dan kekeluargaan
Di sini kami belajar memaknai apa yang orang sebut ’setia kawan’
Di sini kami belajar menerima perbedaan
Saya, di organisasi pecinta alam kampus saya, merasa sudah mendapatkan banyak hal. Di sini tidak hanya ada have fun. Saya menemukan keluarga di sini. Saya juga belajar banyak sekali.
Saya ingin selalu ikut dalam setiap kegiatan (walaupun kenyataannya tidak selalu bisa juga).
Kenapa?
Karena di sini ada ’sesuatu’. Sesuatu yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Saya tidak ingin menomorduakan organisasi ini dari aktivitas saya yang lain. Mungkin di saat saya memilih kegiatan ini dari kegiatan lain, sebagian orang akan berpikir bahwa saya menomorsatukan bersenang-senang, tidak penting, tidak prinsipil. Tapi mereka tidak tahu. Di sini bukan hanya senang-senang caving, climbing, dan lainnya. Ada yang lain di sini. Sesuatu yang memang dibutuhkan.
Sedikit cerita. Beberapa bulan yang lalu, di saat saya memutuskan untuk berubah dan ingin menjadi seorang akhwat, mereka menerima dan mendukung saya. Mereka bilang mereka percaya pada keputusan saya, padahal apa yang saya yakini dan mereka yakini berbeda, bahkan untuk beberapa orang mungkin sangat berbeda.
Waktu itu, saya menulis di buku curhat organisasi. Kurang lebih saya menulis, “Temen-temen, sekarang ada yang berubah dari Rani. Rani yang sekarang ga mau lagi salaman atau diboncengin co. Semata-mata karena bukan muhrim kok. It’s just principe. Beneran cuma prinsip kok, bukannya gw takut sama lo semua atau gimana-gimana. Jadi, mau ga nerima perubahan gw?”
Dan balasan mereka bermacam-macam walaupun intinya satu. Mereka menerima. Mereka menulis:
“Apik wae..” (tidak apa-apa)
“Kita malah bangga kok sama kamu karena kita tahu pasti ga gampang buat kamu untuk ngambil keputusan ini. “
“Tetep ikut kegiatanya Ran. Prinsip kamu ga masalah kok. “
“KIta dah pada dewasa kok Ran. Nyante aja, ga pa pa kok. Kita kan toleransinya tinggi. “
“Biarpun awalnya gw kaget dan bingung kenapa bisa begitu tapi gw ngerti kok karena lo pasti punya alesan sendiri buat milih itu. Kita semua pasti support lo kok. Tenang aja, gurl. “
“Ga pa pa kok. Gw pasti ngedukung lo. “
“Selamat dan sukses ya atas pilihan lo. Emang ya, hidup itu pilihan. “
dan hal-hal sejenisnya..
Jujur, setelah menulis itu saya sempat merasa khawatir, apakah nanti sikap mereka ke saya akan berubah? Apakah cara mereka berbicara dan bercanda ke saya masih akan sama?
Saya pun membuka buku curhat beberapa hari kemudian dengan deg-degan, kira-kira bagaimana ya respon mereka? Tapi ternyata kekhawatiran saya itu tidak beralasan. Alhamdulillah. . Memang benar kata-kata ‘di mana ada kemauan, di situ ada jalan. ” Benar janji Allah, bahwa Dia akan senantiasa membantu hamba-Nya yang berusaha menuju ke arah-Nya.
Mereka bersikap biasa saja walaupun saat pertama bertemu di pandangan masing-masing termasuk saya ada tatapan meneliti. Malah saya jadi sering dicandai, “Ran.salaman dong!” sambil tertawa atau, “Ran.sini gw boncengin!” sambil cengengesan atau sedikit-sedikit bilang, “Eh eh.bukan muhrim, hehehe.”
Dalam kegiatan apa pun mereka selalu mengajak saya dan sudah mempertimbangkan tumpangan saia sampai terkadang saya jadi merasa tidak enak sendiri.
Saat mereka bilang ga pa pa, mereka benar-benar serius. Itu salah satu poin plus anak-anak pecinta alam lagi. Mereka apa adanya dan mereka juga punya prinsip. Saya tidak pernah merasakan kepura-puraan di sana. Bila ada yang terasa mengganjal mereka bilang agar semuanya kembali lurus. Bila merasa perlu berterima kasih mereka bilang, sekecil apapun itu. Sikap saling menghargai, sadar atau tidak sadar, sudah mendarah-daging di sini. Sesuatu yang sayangnya mungkin sering dilupakan di tempat lain.
Mapala yang identik dengan rokok, miras, tampilan yang sangar, dan jauh dari Allah ternyata tidak seburuk yang mungkin terlihat dari luar. Yang akrab dengan mabuk-mabukan sebenarnya juga punya keinginan dalam dirinya untuk keluar dari kecanduannya sampai akhirnya kecanduannya itu berkurang dan berkurang, bahkan hilang. Yang jarang shalat mulai shalat walopun masih lebih sering tidak shalatnya. Tetapi mereka benar-benar berniat suatu saat nanti akan berubah. Walaupun masih menggunakan kata-kata ’suatu saat nanti’ tetapi tetap saja sudah menunjukkan suatu hal positif apalagi dibarengi juga dengan perbuatan.
Intinya, di tempat ini kita bisa sharing apa saja. Jadi, jangan nilai seseorang lain dari tampilan luarnya saja karena di balik itu bisa saja sebenarnya orang tersebut memiliki banyak hal yang mengagumkan dan menginspirasi..
Wallahu alam bish shawab..
sumber: www.eramuslim.com





