Tsunami Tanpa Makna Desember 24, 2008
Posted by IREMA SMA 6 Tasikmalaya in Kisah Hikmah.trackback

Ini adalah satu kisah yang membuat saya menjadi perenung kelas berat, keajaiban seakan menjadi sebuah benda yang kami tetap nantikan. Tepatnya 26 Desember 2004 silam, kejadian ini meninpa salah satu keluarga kami di Aceh. Waktu itu saya baru satu tahun tinggal di Medan. Kejadiannya adalah Minggu pagi. Kebiasaan saya mencuci pakaian di pagi hari minggu itu, dihentakan dengan getaran bumi kira-kira 5,6 Skala Richter. Medan oleng banyak diantaranya yang menyadari kejadian gempa yang berpusat 30 Km lepas pantai Banda Aceh (Samudera Hindia), berhamburan ke luar rumah. Tiang listrik yang terbuat dari beton ibarat kayu bergoyang ke sana sini, sejumlah orang tak bisa berdiri tegak. Hari itu bencana terbesar negeri ini menimpa masyarakat Aceh, Sibolga dan Nias serta sebagian besar daerah pesisir barat pulau Sumatera.
Kejadian tragis itu juga menimpa keluarga kami di Banda Aceh, kakak tercita dan sekeluarga adalah salah satu keluarga yang ditakdirkan tuhan untuk merasakan kedahsyatan bencana ini.
Bencana itulah, tuhan menakdirkan salah seorang putra tercintanya (Aulia Algifari) hingga kini belum diketemukan. Bertahun-tahun lamanya akejadian Tsunami itu kini menjadi simbol penyemangat hidup. Keluarga kakak kami tercinta berangsur pulih dan alhamdulillah kini telah kembali menikmati kehidupannya di Tanah Rencong dengan penuh kebahagiaan.
Namun bagi bangsa ini, bertahun tahun Tsunami itu telah terjadi, makna akan hal ikhwal dari bencana itu diturunkan tuhan hingga kini tak pernah tertanam dalam jati diri bangsa ini.
Aku cuma berharap di tengah gelimangan dosa bangsa ini, semoga saja tuhan kemudian tidak murka dengan kepongahan bangsa ini. Tahukah bahwa Tsunami itu tanpa makna di negeri ini, bukan mustahil tuhan akan kembali menerjang nusantara dengan Tsunami-Tsunami yang lain.
Masih sahabat saksikan, hingga kini semburan lumpur di Sidoarjo yang belum juga berhenti. Ini menujukan jika tuhan masih melihat bangsa ini belum sadar dan kembali kefitrahnya.
Kembali ke Tsunami, bangsa ini kini telah dibutakan dengan teknologi, bahwa bangsa ini seakan bakal terselamatkan dari bencana serupa, dengan teknologi mutakhir. Boleh saya kasih tahu, jika kehebatan teknologi juga adalah bahasa tuhan bukan ?. Bahasa itu tuhan telah pegang, dan bahkan mungkin juga tak bisa mendeteksi Tsunami selanjutnya yang akan diturunkan. Lalu siapa yang sebenarnya bisa mendeteksi, mengetahui dan menghindar dari tsunami-tsunami (bencana-bencana) yang akan datang.
Hanya satu, adalah orang yang menyelenggarakan kehidupannya dengan manusia tanpa mengenal ras agama dan kepercayaannya serta sukunya, dan orang yang menyelenggarakan kehidupan dengan tuhannya. Hanya itu orang yang mampu mendeteksi dan menghindar dari ancaman Tsunami yang akan datang.
Asal tahu saja, Tsunami-Tsunami baru akan datang dalam berbagai dimensi. Kesenjangan ekonomi, kemiskinan, kebiadaban penguasa, korupsi yang membahana dan sebagainya.
Dan ini semua kembali dan datang karena adanya Tsunami tanpa makna, Tsunami tak bermakna dan Tsunami yang tak pernah melahirkan makna. Ingat !, Tuhan akan selalu berbica dengan kesungguhan dan hanya manusia yang punya hati nuraninya yang akan mampu berbicara baik dengan tuhannya. Tahukah bahwa Islam didirikan dengan tangan si miskin dan si anak yatim piatu, tahukan bahwa Islam didirikan oleh seorang penggembala kambing.Namun kenapa Islam bisa kokoh hingga sekarang meski dihujat dan disudutkan diberbagai penjuru.
Dari situlah kita bisa lihat, bahwa kemuliaan yang diberikan tuhan kepada manusia tidak dilihat dari berapa banyak hartanya, keelolan rupanya dan dari mana ia berasal. Ingat tuhan tidak pernah membedakan umatnya, dialah Muhammad yang diberikan keteladanan dan keutamaan yang mempunyai hati nurai untuk selalu menyelenggarakan kehidupan terbaiknya dengan manusia dan tuhannya. Maka jangan heran jika Islam akan tetap berdiri kokoh di muka bumi ini.
Nah, inilah yang harus kita ingat. jadikanlah Tsunami-Tsunami tanpa makna itu tak menjelma lagi di kehidupan kita. Menyelenggarakan kehidupan terbaik dengan manusia dan tuhan adalah jawabannya. Ingat, bahwa tuhan bisa berbicara banyak dengan manusia di Dunia ini. Jadi tetaplah berdiri dengan kalimat tauhidnya, hingga tsunami tanpa makna ini bisa kita lenyapkan.by@mujahid abdurrahim Alumni SMA 6 Tasikmalaya Angkatan 2003






oooooooo yah kalau boleh sya kasih taw dunk dalil istri menyelamatkan suami atau ibu jika dalam bahaya
koreksi, belajar lagi sejarah bro……! Muhammad itu keturunan bangsawan quraisy……kok lu bilang si miskin si penggmbla kmbing sich? dam you
semoga kita semua diberi petunjuk dan bisa menjalan kan kehidupan sehari-hari lebih baik
semoga ini jadi peringatan untuk kita semua allah begitu sangat sayang terhadap umat nya sepaya kita lebih kuat untuk beribadah kepada nya
dan jangan lupa ingat pada allah ….. banyak lah shadyat… amin